Tentang Kartu Merah: Fans Barcelona Pasti Ingat Kartu Merah Van Persie Tahun 2011

Sepak bola selalu punya cara untuk mengulang cerita. Kadang dengan pemain yang berbeda, tapi dengan rasa yang sama.

Hari ini, keluhan datang dari Barcelona. Bukan hanya dari fans, tapi juga dari pemain mereka sendiri.

Raphinha secara terbuka menyebut bahwa timnya “dirampok” setelah tersingkir dari Liga Champions. Barcelona kalah agregat 2-3 dari Atletico Madrid di perempat final, meskipun menang 2-1 di leg kedua. (detiksport)

Kata yang digunakan tidak main-main. Dirampok.

Perasaan itu muncul bukan tanpa alasan. Dalam pertandingan tersebut, Barcelona kembali harus bermain dengan 10 orang setelah Eric Garcia mendapat kartu merah di babak kedua usai melanggar Alexander Sorloth. (detiksport)

Ini bukan kejadian sekali.

Di leg pertama, Barcelona juga kehilangan pemain karena kartu merah. Artinya, dalam dua pertandingan berturut-turut, mereka selalu bermain dengan kekurangan jumlah pemain. (detiksport)

Dan di sinilah keluhan itu semakin keras.

Kartu merah dianggap kembali merusak rencana Barcelona. Mengubah arah permainan. Menghilangkan momentum. Membuat mereka sulit mengejar hasil yang dibutuhkan.

Narasi pun langsung terbentuk.

Wasit tidak adil.
Keputusan terlalu keras.
Pertandingan jadi tidak seimbang.

Semua itu terdengar sangat familiar.

Karena kalau kita mundur ke tahun 2011, ada satu malam yang tidak bisa begitu saja dilupakan.

Tanggal 8 Maret 2011.
Camp Nou.
Babak 16 besar Liga Champions, leg kedua.

Barcelona menghadapi Arsenal.

Di leg pertama, Arsenal menang 2-1 di Emirates Stadium. Mereka datang ke Camp Nou dengan keunggulan dan harapan untuk lolos.

Pertandingan berjalan ketat. Barcelona menekan, Arsenal mencoba bertahan.

Lalu datang momen di menit ke-56.

Robin van Persie menerima bola dan melepaskan tendangan. Dalam waktu yang hampir bersamaan, peluit offside sudah dibunyikan oleh wasit.

Situasinya sangat cepat.

Namun keputusan tetap diambil.

Van Persie yang sudah mengantongi satu kartu kuning dianggap melanggar karena tetap menendang bola setelah peluit. Ia langsung mendapat kartu kuning kedua.

Kartu merah.

Di situlah semuanya berubah.

Secara aturan, keputusan itu bisa dijelaskan. Tapi sepak bola tidak hanya hidup dari aturan. Ada konteks. Ada situasi. Ada logika permainan.

Camp Nou malam itu penuh. Suaranya bising. Banyak yang berpendapat hampir mustahil seorang pemain bisa langsung menghentikan gerakan dalam sepersekian detik.

Van Persie mengatakan ia tidak mendengar peluit. Arsene Wenger marah. Pemain Arsenal memprotes.

Dan sejak momen itu, pertandingan tidak lagi sama.

Arsenal bermain dengan 10 orang. Barcelona mengambil alih. Mereka menang 3-1 dan lolos dengan agregat 4-3.

Tapi cerita malam itu tidak berhenti di skor.

Yang tertinggal adalah rasa.

Rasa bahwa pertandingan berubah karena satu keputusan.
Rasa bahwa ada sesuatu yang hilang.
Rasa yang oleh banyak fans disebut dengan satu kata sederhana.

Dirampok.

Hari ini, kata yang sama kembali muncul.

Ketika Raphinha mengatakan Barcelona dirampok, itu bukan sekadar emosi sesaat. Itu adalah cerminan dari bagaimana sebuah tim melihat pertandingan ketika merasa dirugikan oleh keputusan wasit.

Masalahnya, sepak bola tidak pernah benar-benar berubah.

Yang berubah hanya posisi.

Dulu, ada tim yang merasa dirugikan.
Sekarang, giliran tim lain yang merasakannya.

Dulu, ada yang protes.
Ada juga yang memilih diam.

Sekarang, suara itu datang dari arah yang berbeda.

Dan di situlah sepak bola menjadi jujur.

Kita sering lupa bahwa rasa yang kita rasakan hari ini, pernah lebih dulu dirasakan oleh orang lain.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun.

Ini hanya pengingat sederhana.

Bahwa dalam sepak bola, semua orang pada akhirnya akan merasakan dua hal.

Menang karena keputusan.
Dan kehilangan karena keputusan.

Dan mungkin, kedewasaan sebagai fans bukan soal seberapa keras kita membela tim sendiri.

Tapi seberapa jujur kita mengingat.

Bahwa rasa “dirampok” itu bukan hal baru.

Ia hanya berpindah tempat.

Posting Komentar